Oleh : Abu Anas Abdullah Al-Medani

Sepintas sebahagian orang ketika mendengar pertanyaan ini akan menganggap ini adalah pertanyaan yang sepele dan remeh dan tidak perlu untuk ditanyakan. Akan tetapi kalau kita kaji lebih dalam, akan kita ketahui bahwasannya ini adalah pertanyaan yang agung dan sangat penting, sebab  pertanyaan ini berkaitan dengan permasalahan ma’rifatullah ( mengenal Allah ) yang wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui tentang Rabbnya Allah mengetahui tentang nama- nama-Nya dan sifat- sifat-Nya sesuai dengan apa yang Dia kabarkan kepada kita di dalam Al Qur’an dan juga yang dikhabarkan oleh nabi kita Muhammad dalam hadits- haditsnya ,dan mengetahui apa hak-hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba-hamba-Nya.

Dan juga pertanyaan ini adalah pertanyaan yang dijadikan oleh Rasulullah sebagai penguji dan patokan untuk menghukumi  seseorang sebagai  mukmin.

Imam Muslim di dalam “ SHAHIH” nya, meriwayatkan sebuah hadits dari Mu’awiyyah bin Al Hakam As Sulami,dia mengatakan :

”Aku pernah menampar seorang budak perempuanku, kemudian aku khabarkan hal tersebut kepada rasulullah,maka beliau menganggap besar perkara yang demikian terhadapku, sehingga aku berkata kepada beliau : “Ya rasulullah, apakah aku harus membebaskannya?”, beliau mengatakan : “Bawa terlebih dahulu dia kepadaku!”, maka aku bawa budak perempuanku tersebut kepada rasulullah, kemudian beliau berkata kepadanya : “Dimana Allah?”, budak tersebut menjawab :” Di langit”, rasulullah bertanya kembali :” Siapa aku ?”, budak tersebut menjawab : “Engkau rasulullah” , maka rasulullah mengatakan :” Bebaskan dia sesungguhnya dia seorang mukmin”[HR.MUSLIM NO: 537] .

Lihatlah bagaimana rasulullah menghukumi budak tersebut sebagai seorang mukmin ketika dia menyatakan bahwasannya Allah ada di langit bersamaan dengan pengakuannya bahwa beliau adalah Rasulullah. Sehingga nampak di sini bahwasannya tidaklah cukup seseorang dinyatakan sebagai  mukmin setelah dia meyakini bahwa nabi kita Muhammad adalah rasulullah sampai dia meyakini bahwa Allah ada di langit.

Akan tetapi kalau kita sodorkan pertanyaan ini kepada kaum muslimin yang ada sekarang, akan kita dapatkan kebanyakan mereka tidak menjawab dengan jawaban yang tepat. Mereka akan menjawab dengan jawaban yang berbeda dengan jawaban budak perempuan tersebut, dengan mudahnya lisan-lisan mereka akan mengatakan “ Allah ada di mana- mana !” atau dengan ungkapan yang lain yang intinya tidak mengakui dan tidak menetapkan bahwa Allah ada di langit. Padahal di hadapan mereka ada Al- Qur’an yang menjelaskan dengan penjelasan yang lebih dari cukup tentang penetapan yang demikian. Apalagi hal tersebut  disokong dengan hadits-hadits yang shahih yang banyak dan ditambah lagi dengan perkataan para sahabat dan para tabi’in serta ‘ulama dari kalangan mazhab yang empat dan selain mereka, yang  sedikitpun tidak akan menimbulkan keraguan di hati seorang mukmin yang masih bersih hatinya dan selamat fithrahnya bahwa Rabbnya (Allah) ada di langit, istiwa’[1] di atas Arsy- Nya.

Adapun dalil dari Al-Qur’an diantaranya firman Allah di dalam surat Yunus ayat 3:

“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian dia Istiwa’ di atas ‘Arsy “

Dan juga Allah  berfirman dalam surat Thaha ayat 5 :

“ Ar Rahman di atas ‘Arsy istiwa’ “

Berkata Imam Abu Hanifah: “Barangsiapa yang mengatakan : saya tidak tau apakah Rabb saya di langit atau di bumi, maka dia kafir, karena Allah Ta’ala mengatakan :

“ Ar Rahman di atas ‘Arsy istiwa’ “

Dan ‘Arsy- Nya di atas langit ketujuh. Barangsiapa yang mengatakan : sesungguhnya Dia di atas ‘Arasy, akan tetapi saya tidak tahu apakah Arsy tersebut di langit atau di bumi, maka dia kafir karena dia mengingkari bahwasannya Dia di langit. Barangsiapa yang mengingkari bahwa Dia di langit maka dia kafir, karena Allah Ta’ala lah yang maha tinggi, dan dia diseru ke arah yang tinggi bukan ke arah yang rendah”. [Ijtima’ Al Juyus Al Islamiyah, Hal. 74 (Cet. Daarul Atsar)].

Demikian juga Allah berfirman di dalam surat Al- Mulk: 16- 17:

“Apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang berada di langit bahwa dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, Atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang ada di langit bahwa dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?”

Juga Allah berfirman dalam surat Ghaafir ayat: 36- 37 :

“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya Aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya Aku dapat melihat Rabbnya Musa dan Sesungguhnya Aku memandangnya seorang pendusta”

Ayat ini menunjukkan bahwasannya Nabi Musa mendakwahkan kepada Fir’aun bahwa Rabbnya (Allah) ada di langit, dan Fir’aun merasa ragu dengan demikian dan berusaha mengingkari dan mendustakan Nabi Musa dakwahan beliau tersebut.

Maka orang-orang yang menetapkan bahwa Allah ada di langit  aqidahnya (keyakinannya) sama dengan Nabi Musa. Adapun orang yang ragu dengan demikan maka aqidahnya sama dengan aqidah Fir’aun. Siapakah yang lebih benar dan lebih baik ; seseorang yang beraqidah sama dengan aqidah seorang nabi dari kalangan nabi Allah ataukah seseorang yang beraqidah sama dengan Fir’aun ?!.

Dan Allah juga berfirman tentang para malaikat dan makhluk- makhluk-Nya yang taat kepada-Nya yang ada di langit dan di bumi bahwasannya mereka :

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)”.(An- Nahl: 50)

Demikian juga  Allah berfirman tentang pengangkatan nabi Isa ke langit :

“(ingatlah), ketika Allah berkata: “Hai Isa, Sesungguhnya Aku akan menidurkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku “. (Ali- Imran : 55 )

Juga Allah berfirman:

“Bertasbihlah dengan menyebut nama Rabb kamu yang maha tinggi”. (Al-A’la : 1).

Lihatlah, bagaimana Allah mensifati dirinya dengan Maha Tinggi. Dan tidaklah Allah dikatakan Maha Tinggi kalau Dia berada di bawah, atau ada makhluk yang lebih tinggi dari-Nya.

Dan Allah juga berfirman :

“Sesunguhnya kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan peribadahan kepada-Nya”.(Az-Zumar : 2)

Pada ayat ini,Allah Ta’ala mengkhabarkan bahwa Dialah yang telah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah dengan membawa kebenaran. Dan perbuatan “menurunkan” tidak akan terjadi kecuali dari atas ke bawah. Maka ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala berada di atas.

Demikian juga Allah berfirman :

“ Kepada-Nya lah naik ucapan-ucapan yang baik, dan amal shalih Dia lah yang mengangkatnya”.(Faathir : 10).

Allah Ta’ala mengkhabarkan bahwa ucapan-ucapan yang baik berupa zikir dan sebagainya akan naik kepada-Nya, dan bahwasannya amalan yang shalih Dialah yang akan mengangkatnya. Ini juga menunjukkan tingginya Allah karena kata-kata “naik” tidak akan terjadi kecuali dari bawah ke atas.

Adapun dalil dari hadits, diantaranya perkataan Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri dimana Rasulullah bersabda :

“ Apakah kalian tidak percaya kepadaku sementara aku adalah orang yang dipercaya (oleh Allah ) yang ada di langit, datang kepadaku khabar dari langit sore hari dan pagi hari “[HR.BUKHARI : 4351 ,MUSLIM : 1064].

Dan dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah berfirman :

“Setiap mayit akan dihadiri oleh malaikat, apabila dia seorang yang shalih, malaikat akan berkata kepadanya :“ Keluarlah wahai jiwa yang tenang yang ada di dalam jasad yang baik, keluarlah dalam keadaan terpuji dan bergembiralah dengan kelapangan dan wewangian, dan Rabb kalian dalam keadaan tidak murka. Maka malaikat tersebut mengatakan demikian sampai dibawa naik mayat tersebut ke langit yang berada padanya Allah “[HR.AHMAD (8/414 NO: 8754), IBNU MAJAH (2/1426 NO: 4268), hadits shahih dishahihkan oleh syekh albani].

Dan dari Abu Hurairah dia mengatakan:” Telah bersabda Rasulullah:

“ Demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya ke ranjangnya, kemudian istrinya tidak memenuhi panggilannya, kecuali pasti (Allah) yang ada di langit akan murka kepadanya sampai suaminya ridho kepadanya”.[HR.MUSLIM N0:1436]

Dan juga hadist Muawiyyah bin Al Hakam yang telah berlalu, yakni pertanyaan Rasulullah kepada seorang budak perempuan tentang dimana Allah, merupakan dalil yang sangat jelas menunjukkan bahwasannya Allah ada di langit.

Demikian juga kisah Isra’ dan Mi’raj, dimana Rasulullah menemui Allah di langit ketujuh di Sidrhatul Muntaha untuk menerima perintah shalat yang awal mulanya lima puluh waktu sehari semalam dan terus berkurang hingga menjadi lima waktu sehari semalam [Hadits-hadits tentang kisah isra’ dan mi’raj terdapat dalam shahihain dan selainnya].

Adapun riwayat dari para sahabat, diantaranya riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab “TARIKH”nya (1/201-202 no : 623) dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar,dia mengatakan :

“ Tatkala meninggal Rasulullah masuklah Abu Bakar kemudian beliau membungkukkan badannya dan mencium kening rasulullah dan mengatakan : “Sungguh keadaanmu sangat baik ketika hidup dan matimu”, kemudian beliau berkata kembali : “ Barangsiapa yang menyembah Muhammad maka Muhammad telah mati , dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah yang ada di langit hidup tidak akan mati “

Dalam shahih Bukhari dari Anas bin Malik beliau mengatakan :

“ Adalah Zainab berbangga terhadap istri- istri rasulullah yang lain ,dia mengatakan: “ Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian sementara aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit ketujuh”[HR.BUKHARI NO: 7420].

Adapun perkataan para ulama’ setelah mereka dari kalangan tabi’in dan selainnya, diantaranya perkataan Sulaiman At-Tamimi seorang tabi’in : “ Kalau seandainya aku ditanya, dimana Allah ? pasti aku akan menjawab : di langit ![Diriwayatkan  oleh al lalika’i (3/444 no:671)] “.

Berkata Imam Al Auza’i:” kami mengatakan –sementara para tabi’in masih banyak yang hidup- : Sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy- Nya, dan kami beriman dengan apa- apa yang datang di dalam sunnah tentang sifat- sifat- Nya “[lihat “ MA’ARIJUL QOBUL (1/HAL:235)”].

Berkata Imam Malik: “ Allah berada di langit dan ilmunya mencakup segala tempat, tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu Allah”[Dikeluarkan oleh imam al lalika’i  no: 673].

Berkata ‘Ali bin Al Hasan bin Saqiq, aku berkata kepada Abdullah bin Al Mubarak: “Bagaimana kita mengenal Rabb kita ?, dia berkata : “ Rabb kita berada di langit ketujuh di atas ‘Arsy- Nya, dan kita tidak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Jahmiyah[2] bahwa Dia ada di mana-mana  di atas bumi”. Kemudian disampaikan perkataan ini kepada Imam Ahmad bin Hambal,maka beliau mengatakan : “ Demikanlah keyakinan yang ada pada kami ( yakni sebagaimana perkataan Abdullah bin Al Mubarak )”[Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam “ Assunnah NO:22”].

Berkata Imam Syafi’i: “ Perkataan yang merupakan sunnah, yang aku berada padanya dan berpandangan dengannya dan yang aku melihat mereka seperti Sufyan, Malik dan selain mereka berpandangan dengannya adalah bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah rasulullah, dan bahwasannya Allah di atas ‘Arsy- Nya di  langit-Nya “ [Diriwayatkan oleh Al Hakari di dalam “ AQIDAH ASSYAFI’I “ lihat “ MA’ARIJUL QOBUL (1/HAL:242)”.].

Inilah diantara dalil-dalil dari dari sekian banyak dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunnah dan juga perkataan para sahabat dan ulama-ulama setelah mereka yang menunjukkan dan menetapkan suatu aqidah dan keyakinan yang merupakan aqidah islam bahwa Allah berada di langit istiwa’ di atas ‘Arsy-Nya; yang tidak sepantasnya bagi seorang muslim setelah mengetahuinya masih ada keraguan tentang hal tersebut dan meyakini selainnya. Kita memohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepada kita dan kepada kaum muslimin seluruhnya kepada aqidah yang benar dan agar dijauhkan dari aqidah yang sesat dan menyimpang dari aqidah islam. Amiin.

Rujukan bacaan :
1. Ma’arijul Qabul karya Asy Syaikh Hafidz bin Ahmad Al Hakami rahimahulloh
2. Syarah ‘Aqidah Ath-Thahawiyah karya Ibnu Abil Izz Al Hanafi rahimahulloh
3. Buletin Ta’zhim As-Sunnah Edisi 13/IV/19 Rabi’uts Tsani 1431 H

FOOTNOTE:
[1] . Istiwa’ dalam bahasa apabila ditambahkan dengan kata “ ‘ala ( di atas )” maknanya ‘ala wa irtafa’a yakni berada di tempat yang tinggi sebagaimana tafsiran dari Abu ‘Aliyah dan Mujahid
[2] . Suatu kelompok yang disandarkan kepada pencetusnya “ Jahm bin Shofwan” yang mengingkari seluruh nama- nama dan sifat- sifat Allah dan telah memfatwakan kebanyakan ulama tentang kafirnya Jahmiyah dan keluarnya dari ahlu qiblat ( dari kelompok kaum musalimin ). Lihat “ MA’ARIJUL QOBUL : 1/ HAL : 155”.

sumber: http://tazhimussunnah.com/buletin/81-dimana-allah.html

. . .

TAMBAHAN; (dalil dari Al-Quran yang menjelaskan bahwa ALLAH berada di langit dan bersemayam di atas ‘Arsy):

~ QS.Thaha: 5
“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.”

~ QS.As Sajadah: 4
“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `arsy.”

~ QS.Al Furqan: 59
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.”

~ QS.Yunus: 3
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan.”

~ QS.Ar Ra’ad: 2
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy.”

~ QS.Fathir: 10
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik (ke langit) perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.”

~ QS.Al A’raf: 54
“Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy.”

__________________

KAJIAN TERKAIT :
~ Kewajiban Bertauhid dan Menjauhi Kesyirikan
~ TAUHID Rahasia Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
~ TAUHID, Inti Dakwah Para Rasul
~ Keutamaan TAUHID dan Bahaya Syirik
~ Tauhid, Makna LAA ILAAHA ILLALLAH
~ Tauhid dan Makna Syahadat