Beragam tanggapan serta suara sumbang seputar muslimah bercadar, padahal cadar adalah bagian dari syariat Islam dan tidak ada ulama yang mengingkari pensyariatannya. Mereka hanya berbeda pendapat tentang hukumnya; wajib dan sunnah.

Beberapa dalil-dalil yang dikemukakan oleh ulama yang mewajibkan cadar_dibawah ini; semoga bisa menjawab keheranan sebagian orang terhadap muslimah bercadar, hingga katanya bagaimana mungkin seorang wanita rela menutupi keindahan parasnya dan kemolekan tubuhnya, sementara hampir semua wanita berlomba-lomba dan bersaing memamerkan kecantikannya?

. . .

Hijab, penutup wajah adalah kemuliaan dan izzah muslimah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta kebahagiaan di kehidupan dunia dan akhirat. Di akhirat ada pahala dari Allah dan ganjaran yang besar. Dan di dunia (hijab) sebagai benteng kemuliaan dan kehormatan muslimah.

Perintah berhijab bagi wanita adalah untuk menutupi perhiasannya agar kecantikannya tidak sembarang dilihat/dinikmati oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Sesungguhnya wajah wanita adalah letak kecantikan mereka, wajah mengungkapkan kemolekan dan keindahannya. Dan apabila seorang wanita meninggalkan hijabnya dan melepaskan hijab dari wajahnya, orang-orang dari lawan jenisnya yang bukan mahram baginya akan dengan leluasa dapat melihat dan memandang kepadanya. Dan akibatnya dia akan diganggu atau digoda dan laki-laki akan berusaha untuk mendekatinya dan hasilnya adalah kemudharatan dan kehinaan –hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita mohon keselamatan-.

Bahwa (berhasilnya -pentj) para penjajah sesat meruntuhkan bangunan Islam di negeri-negeri pemeluknya dan menyibak kehormatan mereka serta menebar di tengah-tengah ummatnya berbagai bentuk kenistaan dan menjajakan kebatilan dan menjauhkan mereka dari agama mereka tidak lain adalah dengan cara merusak kaum wanitanya. Sehingga akhirnya wanita-wanita muslimah mencampakkan hijabnya, menyambut seruan mereka yang hidup di bawah didikan musuh-musuh Islam, orang-orang yang terperdaya oleh mereka, lantas merealisasikan rencana busuk mereka, memerangi hijab dan menyangka bahwa hijab adalah paksaan, mencelakakan kaum wanita, mengekang dan mengurung mereka dari bersosialisasi dengan lawan jenis, dan bahwa hijab adalah sebab tersisihnya mereka dari masyarakat.

Dahulu wanita-wanita Islam mengenakan hijab dan di kala itu hijab adalah suatu ajaran yang disyariatkan pada kurun-kurun yang lampau. Dan orang-orang yang mengatakan wanita boleh menampakkan wajahnya dan kedua tangannya dengan dalil “dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka” (Qs. An-Nuur: 31) adalah pendapat yang lemah, tidak bisa dijadikan pegangan. Dan para pakar berpendapat bahwa arti “kecuali yang (biasa) nampak dari mereka” adalah pakaian luar bukan maksudnya membuka wajah dan kedua tangan.

Berapa besar kerusakan yang menimpa agama wanita-wanita muslimah akibat mereka menanggalkan hijab, barapa banyak orang-orang fasik yang akhirnya berhasil memperdaya mereka dan betapa perbuatan ini telah mengakibatkan lemahnya pertahanan seorang wanita dan kepribadiannya serta hilangnya kehormatan, kemuliaan dan kesucian mereka.

Jangan kalian terperdaya dengan orang-orang yang tertipu oleh kebudayaan timur dan barat. Jangan sampai orang-orang yang dididik di negeri-negeri musuh Islam memperdaya kalian. Mereka datang membawa pola pikir barat yang serba boleh untuk diterapkan kepada wanita-wanita muslimah. Mereka menginginkan agar wanita-wanita muslimah membuka wajah-wajah mereka dan agar mereka mengenakan pakaian setengah telanjang dan agar mereka berbaur dengan laki-laki di pasar berjual-beli antara laki-laki dan wanita tanpa rasa malu dan sungkan, bersenda gurau di antara mereka tanpa batasan sama sekali. Mereka ingin agar wanita-wanita muslimah membuang fitrah mereka dan mematikan kepribadian mereka dan membumihanguskan akhlak mereka dan menjerumuskan mereka ke berbagai macam kerusakan dan kehinaan, “laknat Allah bagi mereka; bagaimana mereka sampai berpaling”. (Qs. At-Taubah: 30)

Yang kami yakini sebagai agama bahwa hijab hukumnya adalah wajib bagi kaum wanita. Dan lahiriyah ayat-ayat Al Qur’an adalah bukti akan hal ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”. (Qs. Al Ahzab: 59)

Dan firman-Nya, “agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”, maksudnya adalah mengulurkannya ke wajah dan dada dengannya mereka tutupi tubuh mereka dari pandangan laki-laki. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman, “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab, cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”. (Qs. Al Ahzab: 53)

Sucinya hati seorang muslim adalah ketika menyaksikan wanita muslimah berhijab. Dan sucinya hati seorang muslimah adalah ketka mereka berhijab. Dan meninggalkan hijab hanya mewarisi penyakit di dalam hati laki-laki dan perempuan. Hati-hatilah kalian dari tipudaya orang-orang yang mengatakan bahwa sebagian ulama yang melarang wanita membuka wajah mereka bukan para pakar dan bukan ulama rujukan yang diperhitungkan, karena sesungguhnya mereka –semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua serta mereka- hanya ingin mencampakkan akhlak yang mulia dan adab-adab yang tinggi dan bahwasanya wanita boleh melakukan perbuatan sesuka hatinya dan mereka tidak harus berpegang dengan syari’at. Semoga Allah mengembalikan semua kepada kebenaran dan memberi kita dan mereka petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus.

Perhatikan ayat-ayat dibawah ini yang merupakan dalil atas diwajibkannya muslimah untuk menutup wajahnya (bercadar):

●  “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.” (QS. An Nur: 31).

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan wanita mukmin untuk memelihara kemaluan mereka. Hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan, karena sarana memiliki hukum tujuan. Bukankah menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan? Jadi, menutup wajah pun diperintahkan.

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31).

Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita, “(Yaitu) pakaian”. Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.

Anda mungkin akan merasa miris, jika pertanyaan “apa yang biasa nampak dari wanita saat ini?” ditanyakan kepada Anda, maka Anda akan malu-malu menjawabnya.

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)

Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya. Maka menutup wajah lebih wajib, karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Menurut Anda, mungkinkah agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah?

Perhatikan kembali firman Allah di atas, “…menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.”

Sayang sekali, banyak Muslimah yang belum membaca ayat ini dengan saksama, sehingga jilbab mereka hanya melilit leher.

“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31).

Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekadar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan.

“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggal-kan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka.” (QS. An-Nur: 60).

Ini berarti wanita muda wajib menutupi wajahnya, karena kebanyakan wanita muda yang membuka wajahnya, bermaksud menampakkan perhiasan dan kecantikannya, agar dilihat dan dipuji oleh laki-laki. Wanita yang tidak berkeinginan seperti itu jarang, sedangkan perkara yang jarang tidak dapat dijadikan sandaran hukum.

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).

As-Suyuthi berkata, “Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, di dalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.”

Dalam ayat di atas, terkandung perintah mengulurkan jilbab. Ini meliputi menutup wajah berdasarkan beberapa dalil:

) Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah: Pakaian yang luas yang menutupi seluruh badan. Sehingga seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.

) Yang biasa nampak pada sebagian wanita jahiliah adalah wajah mereka, lalu Allah perintahkan istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi shallallahu alahi wasalam serta istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka. Kata idna’ (pada ayat tersebut) mengandung makna mengulurkan dari atas. Maka jilbab itu diulurkan dari atas kepala menutupi wajah dan badan.

) Menutupi wajah, baju, dan perhiasan dengan jilbab itulah yang dipahami oleh wanita-wanita sahabat.

) Dalam firman Allah Subhanahu wata’ala, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu”, merupakan dalil kewajiban hijab dan menutup wajah bagi istri-istri Nabi shallallahu alahi wasalam, tidak ada perselisihan dalam hal ini di antara kaum Muslimin. Sedangkan dalam ayat ini, istri-istri Nabi shallallahu alahi wasalam disebutkan bersama-sama dengan anak-anak perempuan beliau serta istri-istri orang mukmin. Ini berarti hukumnya mengenai seluruh wanita mukmin.

) Dalam firman Allah shallallahu alahi wasalam, “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Menutup wajah wanita merupakan tanda wanita baik-baik, dengan demikian tidak akan diganggu. Demikian juga jika wanita menutupi wajahnya, maka laki-laki yang rakus tidak akan berkeinginan untuk membuka anggota tubuhnya yang lain. Maka membuka wajah bagi wanita merupakan sasaran gangguan dari laki-laki nakal/jahat. Maka dengan menutupi wajahnya, seorang wanita tidak akan memikat dan menggoda laki-laki iseng sehingga dia tidak akan diganggu.

Dan beberapa dalil lagi dari Al Qur’an yang juga dibawakan oleh ulama yang mewajibkan cadar, namun tidak kami sertakan dalam pembahasan kali ini.

) ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—berkata,

“Para pengendara kendaraan biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah shallallahu alahi wasalam. Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya pada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).

Wanita yang ihram dilarang memakai penutup wajah dan kaos tangan sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sehingga kebanyakan ulama berpendapat, wanita yang ihram wajib membuka wajah dan tangannya. Sedangkan yang wajib tidak dapat dilawan kecuali dengan yang wajib pula. Maka kalau bukan karena kewajiban menutup wajah bagi wanita, niscaya ‘Aisyah dan wanita-wanita yang bersama beliau tidak akan meninggalkan kewajiban membuka wajah bagi wanita yang sedang ihram.

) Asma’ binti Abi Bakar berkata, “Kami menutupi wajah kami dari laki-laki, dan kami menyisiri rambut sebelum itu di saat ihram.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata: “Shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim”, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Ini menunjukkan bahwa menutup wajah wanita sudah merupakan kebiasaan para wanita sahabat.

‘Aisyah radhiallahu anhaberkata,

“Mudah-mudahan Allah merahmati wanita-wanita Muhajirin yang pertama-tama, ketika turun ayat ini:

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. Al Ahzab: 31).

Mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Jarir, dan lainnya).

Ibnu Hajar—rahimahullah—berkata, “Perkataan: Lalu mereka berkerudung dengannya,” maksudnya; mereka menutupi wajah mereka.”

Sabda Rasulullah shallallahu alahi wasalam,

“Wanita adalah aurat. Jika dia keluar, setan akan menjadikannya indah pada pandangan laki-laki.” (HR. Tirmidzi dan lainnya).

Kalau wanita adalah aurat, maka semuanya mesti tertutup, termasuk wajah dan telapak tangannya.

Perkataan ‘Aisyah dalam peristiwa Haditsatul Ifki:

“Dia (Shawfan bin Al-Mu’athal) dahulu pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab atasku, lalu aku terbangun karena perkataannya, “Inna lillaahi…” ketika dia mengenaliku. Maka aku menutupi wajahku dengan jilbabku.” (HR. Muslim)

Inilah kebiasaan Ummahatul Mukminin, yaitu menutupi wajah, maka hukumnya meliputi wanita mukmin secara umum sebagaimana dalam masalah hijab.

Sabda Nabi shallallahu alahi wasalam,

“Barang siapa menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Kemudian Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana para wanita membuat ujung pakaian mereka?” Beliau menjawab: “Hendaklah mereka menjulurkan sejengkal.” Ummu Salamah berkata lagi, “Kalau begitu, telapak kaki mereka akan tersingkap?” Beliau menjawab, “Hendaklah mereka menjulurkan sehasta, mereka tidak boleh melebihkannya.” (HR. Tirmidzi, dan lainnya).

Hadits ini menunjukkan kewajiban menutupi telapak kaki wanita, dan hal ini sudah dikenal di kalangan wanita sahabat.

Lalu menurut Anda, apakah terbukanya telapak kaki wanita lebih berbahaya dari pada terbukanya wajah dan tangan mereka? Maka ini menunjukkan wajibnya menutupi wajah dan tangan wanita.

Jadi, cadar adalah bagian dari syariat Islam. Tapi jika sekadar memakainya tanpa disertai niat ibadah, tentu tidak akan mendapatkan pahala.

. . .

Simak sebuah Tanya-jawab berikut ini yang di kutip dari milis majalah Akhwat.web.id

Tanya:

Assalaamu’alaikum warohmatulloh..
ana belum lama mengaji,, di majelis ta’lim ana melihat akhwat yang memakai cadar dan ada yang tidak memakai..ana masih belum paham tentang hukum cadar dan baju yang syar’i untuk muslimah..mengapa harus warna gelap??? mohon nasehatnya.
jazakillahu khoiron.

Jawab: Terdapat ikhtilaf para ulama tentang hukum yang memakai cadar (atau lebih tepatnya tentang batasan aurat seorang wanita). Lihat terjemah surat al-Ahzab: 59, tentang ini, bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam untuk menyuruh istri-istrinya, anak-anak perempuannya, dan wanita mukmin untuk menutup seluruh tubuhnya agar mereka lebih mudah dikenali dan tidak diganggu.

Hukum cadar, menurut Lajnah ad-Daimah Lil Ifta’, hukumnya wajib (Lih. Fatwa-Fatwa Tentang Wanita). Adapun menurut Syaikh al-Albani hukumnya adalah sunnah (Lih. Hijab al-Mar’atul Muslimah).

Adapun alasan pakaian berwarna gelap adalah untuk menundukkan pandangan lawan jenis. Karena pakaian dengan warna gelap dianggap lebih netral dibandingkan dengan warna-warna yang lebih terang. Selain itu, warna gelap juga dapat meredam bayangan yang mungkin tampak dan menerawang dari balik pakaian.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radiallahu’anha: “Ada sekelompok pejalan kaki melewati kami, saat itu kami (para wanita) bersama Rasulullah saw, bila mereka sejajar (mendekat) dengan kami, masing-masing dari kami memanjangkan pakaiannya dari kepala sampai wajahnya. Bila mereka sudah lewat, kami membuka wajah kembali.”

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari ‘Aisyah radiallahu’anha bahwasanya Nabi saw telah bersabda kepada Asma binti Abu Bakar radiallahu’anhu: “Apabila wanita telah mencapai usia dewasa (baligh), tidak boleh tampak daripadanya kecuali ini dan ini.” Beliau saw mengisyaratkan pada wajah dan kedua tangannya.

Namun hadits tersebut lemah, karena ada beberapa illat (cacat), antaranya terputusnya sanad antara ‘Aisyah dan perawinya, lemahnya perawi yaitu Said bin Basyir, juga perawi yang bernama Qatadah tertuduh melakukan tadlis (meriwayatkan hadits yang belum pernah ia dengar langsung melalui gurunya dengan lafazh yang samar).

Maka jelaslah, bahwa hukum menutup wajah itu wajib karena wajah juga merupakan bagian dari aurat. Karena jika wajah terlihat akan menimbulkan fitnah bagi kaum lelaki.

Wallahu Ta’ala A’lam Bish Showwab.

. . .

SHALAT MEMAKAI CADAR BOLEHKAH ?

Soal: Apakah boleh wanita sholat dengan memakai cadar dan sarung tangan?

Jawab: Apabila seorang wanita sholat di rumahnya atau tempat yang tidak dilihat oleh laki-laki kecuali mahramnya, maka disyari’atkan baginya untuk membuka wajah dan kedua telapak tangannya agar dahi dan hidungnya mengenai tempat sujud demikian juga kedua telapak tangannya.

Adapun memakai sarung tangan adalah perkara yang ada syari’atnya karena para shohabiyah melakukannya dengan dalil bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya):”Janganlah seorang wanita yang ihrom memakai cadar dan jangan memakai sarung tangan” (HR. Bukhori. Kitab Al-Zaja’I As-Shoib).

Hadits ini menunjukkan bahwa kebiasaan para shohabiyah memakai sarung tangan, atas dasar inilah tidak mengapa bagi wanita untuk memakai dua sarung tangan. Apabila ia sholat dan disitu ada laki-laki yang bukan mahram. Adapun yang berhubungan dengan menutup wajah di dalam sholat boleh ketika berdiri atau duduk dan apabila ia ingin sujud maka ia harus membuka cadarnya supaya dahinya menyentuh tempat sujud.

Sumber: Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, soal no: 212.

~ ~ ~

Sumber: dirangkum dari http://www.darussalaf.or.id/myprint.php?id=683 ; http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/milis-akhwat/ , dari note Ummu Hafifah & http://assalafi.wordpress.com/2007/09/18/sholat-memakai-cadar-bolehkah/

________________

KAJIAN TERKAIT :
Sesuatu Dibalik Perhiasanmu
Adab Keluar Rumah bagi Muslimah
Muslimah yang Belum Mantap Menggunakan Hijab
Nasehat Bagi Muslimah Berkaitan dengan Internet
Ilmu (Agama), Perhiasan Tak Ternilai Bagi Muslimah
Pakaian Wanita dihadapan Non Mahram
Kemarahan yang Membawa Petaka
Hijab (Jilbab) – Tolok Ukur Menilai Kepribadian Muslimah
Menyoal Kiprah Muslimah
Emansipasi Atau Deislamisasi?
Membenci Poligami (Ta’addud) adalah Membenci Salah Satu Syiar ALLAH
Nasihat Untuk Wanita Muslimah yang Berhias Seronok
RUMAHmu Adalah SURGAmu
Biografi Shahabiyah Rasulullah
Adab-Adab Berbicara Bagi Wanita Muslimah
Polemik Busana Muslimah Bermotif (bordir/renda)
Arsip; Kajian Muslimah
Wanita Adalah Aurat
Larangan Wanita Bepergian (Safar) Tanpa Mahram
Iklan