Melalui risalah ini kami coba paparkan secara ringkas beberapa panduan dalam memberi nama anak sesuai dengan tuntunan Islam.

Panduan yang kami ringkas dari kitab Tasmiyatul Maulud karya Syaikh Bakr Abu Zaid ini kami susun dalam urutan poin agar lebih mudah dipahami. Berikut panduan dalam memberi nama anak secara Islami:

1. Hendaknya anak diberi nama dengan nama-nama yang baik yang menunjukkan keislamannya.

2. Tidak memberi nama dengan nama-nama orang kafir (yahuhi, nasrani & majusi/hindu-budha,dll)
Seperti: Andrea, Edward, Jacklin, Yuli, Diana, Susan, Paulia, Victoria, Gloria, Lara, Linda, Lisnda, Maya, Manoliya, Gandhi, Sri. dll.

3. Tidak memberi nama anak dengan sesuatu yang tidak memiliki makna
Seperti: Zuzu, Vivi, Mimi, lala. dll.

4. Tidak memberi nama dengan nama-nama yang diharamkan
Seperti:

  • Nama-nama yang menunjukkan peribadahan kepada selain Allah seperti Abdul Masih (hamba Al Masih), Abdussyam (si penyembah mentari), Abdi Negara (hamba Negara).
  • Nama-nama sesembahan orang-orang kafir seperti Latta, Uzza, Wisnu, Krisna, Ganesha, brahma atau yang semisalnya.
  • Nama-nama yang khusus bagi Allah subhanahu wata’ala misalnya Ar Rahman (Yang Maha Pengasih), Ar Rohim (Yang Maha Penyayang), Al Khaliq (Dzat Yang Maha Pencipta), dan Al Bari’ (Dzat Yang Maha Pencipta), dll.
  • Nama yang memiliki makna ghuluw, yaitu berlebih-lebihan seperti Malakul Amlak (Raja diraja), Sulthanus Salatin (Sultan segala Sultan), Hakimul Hukkam (Hakim segala Hakim), Syahansyah (Raja Diraja) , dan Qadhil Qudhat (Hakim segala Hakim), Sayyidun Nas (pemimpin semua manusia), dan yang semisalnya.

5. Tidak memberi nama anak dengan nama-nama yang dibenci

  • Nama-nama yang membuat hati tidak suka karena makna dan lafazhnya, atau salah satu dari keduanya. Nama seperti ini bisa membuat si pemilik nama diperolok sehingga memberi efek psikologis negatif bagi dirinya. Contoh: Harb (perang), Murroh (pahit), Khonjar (pisau besar), Fadhih (membuka aibnya), Fahith (terancam bahaya), Hathhath (tergesa-gesa).
  • Nama-nama yang mengundang syahwat. Nama seperti ini banyak digunakan oleh kalangan perempuan. Seperti: Ahlam (lamunan), Arij (wanita yang semerbak baunya), ‘Abir (wanita yang harum baunya), Ghodah (wanita genit).
  • Nama-nama orang fasik seperti para artis, penyanyi, atau para pelawak.
  • Nama-nama yang mengandung makna-makna yang menunjukkan perbuatan dosa dan maksiat seperti: Zhalim, Sarraq (si pencuri)
  • Nama-nama hewan yang terkenal dengan sifat kotor. Seperti: Hanasy (ular berbisa), Himar (keledai), Qunfudz (landak), Qinaifadz (landak kecik), Qirdani (kutu binatang), Kalb (anjing), dan Kulaib (anjing kecil)
  • Nama-nama yang disandarkan kepada Din (agama) atau kepada Islam, seperti: Contoh: Nuruddin (cahaya agama), Dhiyauddin (sinar agama), Saiful Islam (pedang Islam), dan Nurul Islam (cahaya Islam). Hal ini tidak disukai karena agungnya kedudukan kedua lafadz ini, yaitu Din dan Islam. Sebagian ulama menyatakan keharamannya, karena dapat menyamarkan berbagai makna yang tidak benar.
  • Nama dengan nama yang rangkap seperti: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id. Nama-nama tersebut mengundang keraguan dan percampuran. Orang jadi sulit membedakan, si fulan ini namanya Muhammad atau Ahmad. Karenanya, hal itu tidak dikenal di generasi awal Islam, dan merupakan nama orang-orang abad belakangan.
  • Sebagian para ulama ada yang memakruhkan pemberian nama dengan nama-nama para malaikat seperti: Jibril, Mikail, Isrofil. Dan diharamkan menamai kaum wanita dengan nama-nama para malaikat karena merupakan bentuk penyerupaan kepada kaum musyrikin dalam menjadikan para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah!
  • Sebagian ulama ada yang memakruhkan pemberian nama dengan nama-nama surat-surat dari Al Quranul Karim, seperti Thaha, Yasin, dan Hamim. Adapun apa yang disebutkan oleh masyarakat awam bahwa surat Yasin dan Thaha termasuk nama-nama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tidak benar.

6. Memberi nama dengan nama-nama yang disunnahkan dan diperbolehkan

  • Disunnahkan memberi nama dengan dua nama berikut, yakni ‘Abdullah (hamba Allah) dan ‘Abdurrahman (hamba Dzat Yang Maha Pengasih). Kedua nama tersebut merupakan nama yang paling disukai oleh Allah.
  • Disunnahkan memberi nama yang mengandung penghambaan terhadap nama-nama Allah yang baik (asma’ul husna) mana saja, seperti ‘Abdul ‘Aziz (hamba Dzat Yang Maha Mulia), ‘Abdul Malik (hamba Dzat Yang Maha Menguasai).
  • Memberikan nama dengan nama-nama nabi dan rasul Allah, karena merekalah penghulu Bani Adam, akhlak mereka adalah yang terbaik dan amal mereka adalah amal yang paling bersih. Menamai dengan nama-nama mereka, maka akan senantiasa mengingatnya terhadap mereka, sifat-sifat serta karakteristik mereka.
  • Menamai anak dengan nama-nama orang yang shalih dari kaum muslimin seperti nama para sahabat dan para ulama seperti: Anas, ‘Aisyah, Fathimah, Jabir, dan Urwah.

Mungkin ini apa yang bisa kami ringkas seputar panduan memberi nama anak-anak kita. Semoga bisa bermanfaat dan semoga Allah jadikan putra-putri kita insan yang shalih, yang berbakti kepada kedua orang tua dan bermanfaat bagi agama, bangsa dan masyarakat.

Wallahu a’lam bish shawab. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya hingga akhir zaman.

Ingatlah: Dosa yang diibaratkan selalu melekat adalah dosa dari kesalahan sebuah nama (dosa nama yang jelek). [Syaikh Bakr Abu Zaid].

(Oleh Wira Mandiri Bachrun; Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Al Bayyinah, Sidayu-Gresik. Sekarang melanjutkan studi Islam di Darul Hadits Syihir, Hadramaut – Republik Yaman. Artikel ini selesai ditulis pada hari Jum’at tanggal 19 Jumadil Awwal 1432 H, bertepatan dengan tanggal 22 April 2011).

Sumber: http://www.ilmoe.com/2815/panduan-memberi-nama-anak-bayi-secara-islami.html

____________________

TAMBAHAN:

Etika Memberi Nama Anak dalam Islam

Pentingnya Pemberian Nama

Nama adalah ciri atau tanda, maksudnya adalah orang yang diberi nama dapat mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;
“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).

Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab itu para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan (Marotib Al-Ijma’, hal: 154. Oleh Ibn Hazm). Oleh sebab itu apabila seseorang tidak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (=tidak dikenal) oleh masyarakat.

Waktu Pemberian Nama

Telah datang sunnah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu pemberian nama, yaitu:
Memberikan nama kepada anak pada saat ia lahir.
Memberikan nama kepada anak pada hari ketiga setelah ia lahir.
Memberikan nama kepada anak pada hari ketujuh setelah ia lahir.

Pemberian Nama Kepada Anak Adalah Hak (Kewajiban) Bapak.

Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya seorang bapak lebih berhak dalam memberikan nama kepada anaknya dan bukan kepada ibunya. Hal ini sebagaimana telah tsabit (=tetap) dari para sahabat radhiallahu ‘anhum bahwa apabila mereka mendapatkan anak maka mereka pergi kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepada anak-anak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan bapak lebih tinggi daripada ibu.

Nasab Anak Kepada Bapak Bukan Kepada Ibu

Sebagaimana hak memberikan nama kepada anak, maka seorang anakpun bernasab kepada bapaknya bukan kepada ibunya, oleh sebab itu seorang anak akan dipanggil: Fulan bin Fulan, bukan Fulan bin Fulanah.

Allah Ta’ala berfirman:
“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka…” (QS. Al-Ahzab: 5)

Oleh karena itu manusia pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama bapak-bapak mereka: Fulan bin fulan. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (Lihat Shahih Bukhori, bab: Maa Yad’u An-Naas Bi abaihim).

Memilih Nama Terbaik Untuk Anak

Kewajiban bagi seorang bapak adalah memilih nama terbaik bagi anaknya, baik dari sisi lafadz dan maknanya, sesuai dengan syar’iy dan lisan arab. Kadangkala pemberian nama kepada seorang anak baik adab dan diterima oleh telinga/pendangaran akan tetapi nama tersebut tidak sesuai dengan syari’at.

Tata Tertib Pemberian Nama Seorang Anak

  • Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Dua Suku Kata, misal Abdullah, Abdurrahman. Kedua nama ini sangat disukai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana diterangkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dll.Kedua nama ini menunjukkan penghambaan kepada Allah Azza wa Jalla. Dan sungguh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan nama kepada anak pamannya (Abbas radhiallahu ‘anhu), Abdullah radhiallahu ‘anhuma. Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhum terdapat 300 orang yang kesemuanya memiliki nama Abdullah.Dan nama anak dari kalangan Anshor yang pertama kali setelah hijrah ke Madinah Nabawiyah adalah Abdullah bin Zubair radhiallahu ‘anhuma.
  • Disukai Memberikan Nama Seorang Anak Dengan Nama-nama Penghambaan Kepada Allah Dengan Nama-nama-Nya Yang Indah (Asma’ul Husna), misal: Abdul Aziz, Abdul Ghoniy dll. Dan orang yang pertama yang menamai anaknya dengan nama yang demikian adalah sahabat Ibn Marwan bin Al-Hakim.Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak memberikan nama kepada anak-anak mereka seperti hal ini, mereka mengharamkan diri mereka sendiri memberikan nama anak mereka dengan Abdurrahman sebab orang yang telah membunuh ‘Ali bin Abi Tholib adalah Abdurrahman bin Muljam.
  • Disukai Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Para Nabi.
    Para ulama sepakat akan diperbolehkannya memberikan nama dengan nama para nabi (Lihat Syarh Shahih Muslim 8/437. Imam An-Nawawi rahimahullah; Marotib Al-Ijma’, hal: 154-155).Diriwayatkan dari Yusuf bin Abdis Salam, ia berkata:”Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nama kepadaku Yusuf” (HR. Bukhori –dalam Adabul Mufrod-; At-Tirmidzi –dalam Asy-Syama’il-). Berkata Ibnu Hajjar Al-Asqolaniy: Sanadnya Shohih.

Dan seutama-utamanya nama para nabi adalah nama nabi dan rasul kita Muhammad bin Abdillah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya penggabungan dua nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan nama kunyahnya, Muhammad Abul Qasim.

Berkata Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah:”Dan yang benar adalah pemberian nama dengan namanya (yakni Muhammad, pent) adalah boleh. Sedangkan berkunyah dengan kunyahnya adalah dilarang dan pelarangan menggunakan kunyahnya pada saat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup lebih keras dan penggabungan antara nama dan kunyah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga terlarang”. (Zaadul Ma’ad, 2/347. Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah).

  • Memberikan Nama Kepada Seorang Anak Dengan Nama-nama Orang Sholih Dari Kalangan Kaum Muslimin.
    Telah tsabit dari hadits Mughiroh bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:
    “Sesungguhnya mereka memberikan nama (pada anak-anak mereka) dengan nama-nama para nabi dan orang-orang sholih” (HR. Muslim).

Kemudian para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah penghulunya orang-orang sholih bagi umat ini dan demikian juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir.

Para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa hal ini adalah baik, oleh karena itu sahabat Zubair bin ‘Awan radhiallahu ‘anhu memberikan nama kepada anak-anaknya –jumlah anaknya 9 orang- dengan nama-nama sahabat yang syahid pada waktu perang Badr, missal: Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir.

Syarat-syarat Dalam Pemberian Nama

1. Nama tersebut menggunakan bahasa arab.
2. Nama tersebut dibangun dengan makna yang baik secara bahasa dan syari’at. Oleh karenanya dengan adanya syarat ini tidak boleh menggunakan nama-nama yang haram atau makruh baik dalam segi lafadz ataupun maknanya. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik dari segi lafadz dan maknanya.

Nama-nama yang Diharamkan

  • Kaum muslimin telah bersepakat terhadap haramnya penggunaan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta’ala baik dari matahari, patung-patung, manusia atau selainnya, missal: Abdur Rasul (=hambanya Rasul), Abdun Nabi (=hambanya Nabi) dll. Sedangkan selain nama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, misal: Abdul ‘Izza (=hambanya Al-‘Izza (nama patung/berhala), Abdul Ka’bah (=hambanya Ka’bah), Abdus Syamsu (=hmabanya Matahari) dll.
  • Memberi nama dengan nama-nama Allah Tabaroka wa Ta’ala, misal: Rahim, Rahman, Kholiq dll.
  • Memberi nama dengan nama-nama asing atau nama-nama orang kafir.
  • Memberi nama dengan nama-nama patung/berhala atau sesembahan selain Allah Ta’ala, misal: Al-Lat, Al-‘Uzza dll.
  • Memberi nama dengan nama-nama asing baik yang berasal dari Turki, Faris, Barbar dll.
  • Setiap nama yang memuji (tazkiyyah) terhadap diri sendiri atau berisi kedustaan.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
    “Sesungguhnya nama yang paling dibenci oleh Allah adalah seseorang yang bernama Malakul Amlak (=rajanya diraja)” [HR. Bukhori; Muslim].
  • Memberi nama dengan nama-nama Syaithon, misal: Al-Ajda’ dll.

Nama-nama Yang Dimakruhkan

  1. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama orang fasiq, penzina dll.
  2. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama perbuatan-perbuatan jelek atau perbuatan-perbuatan maksiat.
  3. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama para pengikut Fir’un, misal: Fir’un, Qarun, Haman.
  4. Dimakruhkan memberi nama anak dengan nama-nama hewan yang telah dikenal akan sifat-sifat jeleknya, misal: Anjing, keledai dll.
  5. Dimakruhkan memberi nama anak dengan Ism, mashdar, atau sifat-sifat yang menyerupai terhadap lafzdz “agama” (الدين) , dan lafadz “Islam” (الإسلام), misal: Nurruddin, Dliyauddin, Saiful Islam dll.
  6. Dimakruhkan memberi nama ganda
    (Maksudnya adalah memberikan nama anak dengan dua nama, yang mana nama tersebut terdapat dalam satu orang. Misal Muhammad Ahmad, nama Muhammad dan Ahmad dimiliki oleh satu orang, dan Ahmad bukanlah nama bapaknya,pent.)
    misal: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id dll.Para ulama memakruhkan memberi nama dengan nama-nama surat dalam Al-Qur’an, misal: Thoha, Yasin dll.

Jalan Keluar Dari Pemberian Nama-nama Yang Diharamkan Dan Yang Dimakruhkan

Jalan keluar dari kedua hal ini adalah merubah nama-nama tersebut dengan nama-nama yang disukai (mustahab) atau yang diperbolehkan secara syar’i. Dan untuk merubah nama ini kita dapat mendatangi kementrian/depertemen yang mengurusi masalah ini. (Untuk di sini [Kuwait] kita dapat mendatangi Mahkamah,pent.)

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang mengandung makna kesyirikan kepada Allah kepada nama-nama Islamiy, dari nama-nama kufur kepada nama-nama imaniyah.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhaiallahu ‘anha, ia berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek menjadi nama-nama yang baik” (HR. AT-Tirmidzi).

Demikianlah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama-nama yang jelek dengan nama-nama yang baik, seperti beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam merubah nama Syihab menjadi Hisyam dll. Demikian juga kita mesti merubah nama-nama yang buruk menjadi nama-nama yang baik, misal: Abdun Nabi menjadi Abdul Ghoniy, Abdur Rasul menjadi Abdul Ghofur, Abdul Husain menjadi Abdurrahman dll.

(Maraji’: Tasmiyah Al-Maulud, karya: Asy-Syaikh Bakr Abdullah Abu Zaid)

Sumber: http://darussalaf.or.id/stories.php?id=957

TAMBAHAN : Selengkapnya mengenai Kajian sehubungan dengan ANAK dapat mengunjungi link berikut ini “Anak-Muslim”
___________________

KAJIAN LAINNYA :

Iklan