Salinan:
KHUTBAH IDUL ADHA 1432 Hijriyah
(Ahad, 6 November 2011)


Khatib: 
Ustadz Abu Abdirrohman Abdullah Palu
(Alumni Yaman)


(Diselenggarakan di halaman-samping Masjid At-Tarbiyyah, Kompleks Kantor Dinas Pendidikan Propinsi Sulawesi Tengah. Jln. Setia Budi No.9 Palu)

.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Amma ba’du…
Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah Ta’ala…

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Katakanlah wahai Muhammad karena karunia dan rahmat dari Allah maka bergembiralah kalian” (QS.Yunus:58)

Maka diantara karunia Allah Ta’ala yang terbesar bagi para manusia terkhusus kaum muslimin adalah dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus seorang nabi yang mulia penutup para nabi yaitu nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai rahmat bagi alam semesta…

Allah Ta’ala berfirman:
“dan tidaklah kami mengutusmu wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta”. (QS.Al-Anbiya:107)

Dan juga diantara karunia Allah Ta’ala yang terbesar bagi kaum muslimin ialah Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama ini dengan amat sempurna yang dimana agama ini tidak butuh penambahan ataupun pengurangan sedikitpun…

Allah Ta’ala berfirman:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian (Islam) dan telah aku berikan kenikmatanKu kepada kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian”. (QS.Al-Maidah:3)

Berkata Al-Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini:
“Ini merupakan sebesar-besar nikmat Alaah Ta’ala terhadap umat ini dimana Allah Ta’ala telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka (Islam) maka mereka tidak butuh kepada selain agama Islam dan juga mereka tidaklah mengikuti kecuali kepada nabi mereka Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dikarenakan Allah Ta’ala telah menutup pintu kenabian dengan diutusnya beliau shalallahu ‘alaihi wassalam yang Allah Ta’ala juga mengutusnya kepada para jin dan manusia maka tidaklah ada suatu perkara yang halal kecuali apa yang beliau shalallahu ‘alaihi wassallam halalkan dan tidaklah ada suatu perkara yang haram kecuali apa yang beliau haramkan dan tidaklah ada syariat kecuali apa yang telah beliau syariatkan dan setiap perkara yang beliau kabarkan adalah berita yang benar dan tidak ada kedustaan ataupun tipuan padanya”. (Tafsir Ibnu katsir 2/14)

Maka kesempurnaan agama islam itu berarti sempurnanya pula syariat yang terdapat dalam agama islam yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam telah menjelaskan seluruh perkara syariat islam…

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Tidaklah ada seorang nabipun sebelumku kecuali wajib bagi dia untuk menjelaskan seluruh perkara kebaikan (yang dia ketahui) kepada ummatnya dan begitu pula wajib bagi dia untuk melarang seluruh perkara kejelekan atas ummatnya (dari apa yang dia ketahui)”. (HR.Muslim)

Kaum Muslimin Rahimakumullah…

Diantara syariat yang teragung dalam agama Islam ialah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wassallam telah menetapkan adanya hari raya bagi kaum muslimin… Hari kaum muslimin bergembira pada hari tersebut…

Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tatkala beliau datang ke negeri Madinah dan beliau melihat penduduk Madinah_mereka memiliki dua hari dimana mereka bergembira pada dua hari tersebut…
Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menggantikan dua hari raya kalian ini dengan dua hari raya yang lebih baik darinya yaitu: hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha”. (HR.Abu Dawud & An-Nasa’i)

Berkata Asy-Syaikh Al-Utsaimin:
“Maka setiap perayaan dikarenakan suatu hal. Baik itu perayaan bertepatan dengan hari kemenangan kaum muslimin pada zaman nabi shalallahu ‘alaihi wassallam ataupun bertepatan dengan hari kemerdekaan suatu negri maka itu adalah perkara yang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam”.

Maka penting bagi kita untuk menanamkan rasa cinta kita tatkala menyambut hari raya yang penuh berkah ini, dikarenakan hal tersebut merupakan rasa pengagungan kita terhadap syiar-syiar Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:
“Demikianlah (perintah Allah) maka barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu termasuk ketaqwaan hati seseorang”. (QS.Al-Hajj:32)

Kaum Muslimin–Rahimani wa Rahimakumullah…

Sesungguhnya pada hari ini terdapat sebuah ibadah yang sangat mulia disisi Allah Ta’ala yaitu ibadah Kurban. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam telah melakukan itu agar ummatnya mengikutinya.

Sebagaimana dalam sebuah hadits:
“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alahi wassallam telah menyembelih dua ekor kambing jantan yang amlah (berwarna hitam dan putih) Rasulullah menyembelihnya dengan tangan beliau dan beliau meletakkan kaki beliau di atas perut hewan kurban tersebut”. (Muttafaqun ‘alaih)

Maka dalam menjalankan ibadah kurban haruslah kita mengetahui beberapa perkara:

● Syarat-syarat hewan kurban:

1.   Hewan kurban tersebut haruslah termasuk dalam kategori (bahimul ‘anaam) yaitu berupa hewan ternak: unta & sapi atau yang sejenisnya & kambing maupun domba.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan pada tiap ummat ini Kami syariatkan bagi mereka penyembelihan hewan berkurban agar mereka menyebut nama Allah Ta’ala terhadap apa yang telah Kami berikan kepada mereka berupa bahimatul ‘anaam (hewan ternak)”. (QS.Al-Hajj:34)

Allah Ta’ala mengisyaratkan penyebutan bahimatul an’aam itu dalam surat Al-An’aam ayat 143-144.

2. Bahwa hewan kurban tersebut haruslah telah mencapai umur yang telah ditentukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam

Rasulullah shalallahu ‘alahi wassallam bersabda:
“Janganlah kalian menyembelih hewan kurban kecuali jika hewan tersebut telah mencapai umur musinnah akan tetapi jika kalian tidak mendapatkannya maka sembelihlah domba yang telah berumur jadza’ah”. (HR.Muslim)

Para Ulama menyatakan bahwa:
Unta yang musinnah adalah unta yang telah berumur 5 tahun dan memasuki tahun yang ke-6
Sapi yang musinnah adalah sapi yang berumur 2 tahun dan telah masuk tahun yang ke-3
Kambing yang musinnah adalah kambing yang telah berumur 1 tahun dan memasuki tahun yang ke-2
Maka tidaklah boleh untuk menyembelih hewan kurban unta atau sapid an kambing kecuali telah berumur musinnah (seperti penjelasan di atas), dikecualikan hewan domba maka boleh untuk menyembelih jika telah berumur jadza’ah yaitu telah berumur 6 bulan dan masuk pada bulan yang ke-7

3.  Hewan Kurban tersebut merupakan hewan kurban yang sehat dan tidaklah boleh untuk menyembelih hewan kurban yang berpenyakit (cacat).

Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam menerangkan dalam sebuah hadits tentang sifat hewan yang berpenyakit (cacat) yang tidak boleh dijadikan sebagai hewan kurban:
“Hewan pincang yang sangat tampak kepincangannya, hewan yang bbuta sebelah matanya dengan kebutaan yang sangat, hewan sakit yang sangat tampak sakitnya, hewan kurus yang tidak berlemak (tidak bersumsum)”. (HR.Ahmad)

Syarat-syarat penyembelihan hewan kurban:

1.  Wajib bagi seorang muslim untuk membaca Bismillah tatkala dia hendak menyembelih hewan kurban

dikarenakan Allah Ta’ala berfirman:
“Maka makanlah makanan (daging hewan yang disembelih) jika disebutkan padanya nama Allah jikalau kalian beriman terhadap ayat-ayat Allah”. (QS.Al-An’aam:118)

dan Allah Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kalian memakan (daging hewan yang disembelih) jika tidak disebutkan nama Allah padanya, sesungguhnya perbuatan itu merupakan suatu kefasikan”. (QS.Al-‘an-aam:121)

Maka ini menunjukkan bahwa sembelihan yang halal ialah tatkala seorang muslim membaca basmalah ketika dia hendak menyembelih hewan kurbannya.

Dalam hal ini perlu kita fahami firman Allah Ta’ala:
“Pada hari ini segala sesuatu yang baik dihalalkan bagi kalian dan makanan (sembelihan) ahlul kitab itu halal bagi kalian dan makanan (sembelihan) kalian halal pula bagi mereka”. (QS.Al-Maidah:5)

Makna ayat di atas berdasarkan fatwa Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan Al-Lajnah Ad-Daimah maksudnya yaitu bahwasanya Allah Ta’ala menyatakan bahwa sembelihan ahlul kitab itu halal bagi kaum muslimin. Akan tetapi dalam penyembelihan tersebut mereka harus mengucapkan nama Allah Ta’ala dan mereka harus menyembelih sesuai dengan tata cara penyembelihan kaum muslimin yaitu dengan memotong (mengalirkan darah hewan tersebut) dan juga tidak diperbolehkan bagi mereka untuk menyebut selain nama Allah Ta’ala seperti menyebut malaikat ataupun yang selainnya dari selain nama Allah Ta’ala. (Al-Mughni 8/400, Asy-Syarhul Mumti 7/48-49, Fatawa Al-Lajnah 22/387-389, 391-392, 416).

2.  Awal waktu penyembelihan hewan kurban ialah setelah kaum muslimin melaksanakan shalat Idul Adha.

Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam:
“Sesungguhnya yang pertama kali kita laksanakan pada hari ini ialah mengerjakan sholat id (adha) kemudian kita kembali lalu menyembelih. Maka barangsiapa yang melakukan hal yang demikian maka sesungguhnya dia telah telah mencocoki sunnah kami. Dan barang siapa yang menyembelih sebelum sholat id (adha) maka itu hanyalah sekedar daging biasa yang ia berikan untuk keluarganya dan bukan termasuk hewan kurban sedikitpun”. (HR.Bukhari & Muslim)

Batas akhir penyembelihan hewan kurban ialah dengan tenggelamnya matahari pada hari ke-13 dzulhijjah yaitu hari terakhir dari hari-hari tasyrik dan idul adha jatuh pada tanggal 10 dzulhijjah.

3.  Disenangi bagi seseorang ialah agar dia menggemukkan hewan kurbannya sebelum hewan tersebut disembelih.

Sebagaimana para Sahabat mengamalkan hal itu:
“Adalah kami (para Sahabat) menggemukkan hewan sembelihan kami di Madinah dan kaum muslimin juga menggemukkan hewan sembelihan mereka”. (Syarah Muslim 7/120, Raudhottun Nadhiyyah 610).

4.  Diperbolehkan bagi mereka yang ingin berkurban untuk bermusyarakah (yaitu berkumpulnya 7 orang mengumpulkan uang mereka) untuk menyembelih hewan kurban: unta ataupun sapi.

Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadits:
“Adalah kami pada tahun hudaibiyah berkurban (unta) bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam sebanyak 7 orang dan berkurban (sapi) sebanyak 7 orang”. (HR.Muslim)

Dan tidaklah boleh untuk mbermusyarakah dalam hal menyembelih unta atau sapi tersebut melebihi 7 orang dan tidaklah diperbolehkan untuk bermusyarakah dalam hal menyembelih kambing ataupun domba dikarenakan hal tersebut tidak ada petunjuknya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallahu ‘alaihi wassallam. Dan asalnya (yang lebih utama) adalah seseorang membeli hewan kurban dengan menggunakan hartanya sendiri agar pahalanya lebih sempurna disisi Allah Ta’ala.

5.   Diperbolehkan bagi orang yang hendak menyembelih agar mengucapkan:
“Allahumma taqaballahu minni wa min ahlii”.
(Ya Allah, terimalah kurban ini dariku dan dari keluargaku agar pahalanya mengalir pula kekeluarganya). Wallahu a’lam.

6.  Hendaklah dia bersedekah dengan sebagian daging kurbannya tersebut kepada orang yang membutuhkannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam:
“Makanlah (daging kurban itu) dan bersedekahlah”. (HR.Bukhari & Muslim)

7.   Yang terpenting ialah ketaqwaan seorang hamba.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Bukanllah daging-daging ataupun darah hewan kurban itu yang sampai kepada Allah Ta’ala, akan tetapi yang sampai kepada Allah Ta’ala adalah ketaqwaan kalian”. (QS.Al-Hajj:37)

8.   Dan yang terakhir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
“Berikanlah wasiat yang baik kepada para wanita”.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
“Jikalau seorang wanita sholat (wajib) lima waktu dan berpuasa ramadhan dan menta’ati suaminya dan menjaga kehormatannya dikatakan padanya: masuklah kedalam (surga) melalui pintu-pintu yang kamu kehendaki”. (HR.Ahmad)

“Wa akhiru da’wana analhamdu lillahi rabbil ‘alamiin”

* * *

Penyelenggara: Ma’had (Ponpes) Hikmatussunnah Palu
d/a. Komlpeks Masjid Imam Muslim
Jl. Sungai Manonda Atas, Palu Barat

(utk info jadwal kajian/taklim rutin di  sini)

 _________________

ARTIKEL LAINNYA :
~ Kajian Ahlusunnah di Palu 
~ Tentang Penulis
~ Ibarat Menggenggam Bara Api
~ Tampungan Animasi
~ Tampungan Pernak-pernik
~ Tampungan Sunflower
~ Tampungan Foto Panorama Alam Palu
~ Dingbats Character (Kreasi)
~ Khutbah Idul Fitri 1432 Hijriyah (31 Agustus 2011)
Iklan